RENDAHNYA MINAT BACA MASYARAKAT INDONESIA

Kamis, 08 April 2010


Merenungkan kembali kemerdekaan RI yang sudah lebih dari setengan abad, eksistensi Indonesia sebagai sebuah negara bangsa, serta prestasinya di kancah persaingan Internasionall, akan ditentukan oleh satu hal yaitu : masyarakatnya senang membaca atau tidak. Jika masyarakatnya tidak memiliki budaya membaca, Indonesia sebagai negara bangsa secara lambat namun pasti akan mengalami degradasi, disintegrasi, kemudian bubar, hilang dari peta dunia. Patut disayangkan bahwa kita gagal membangun masyarakat yang membaca. budaya riset, pemanfaatan iptek, ethos kerja, produktifitas, kemerdekaan, kebangsaan, waktu, bahkan Indonesia hanyalah konsep-konsep ilusif yang sulit dipahami, dan dihargai oleh masyarakat yang tidak membaca.

Membaca tidak hanya dipahami memaknai rangkaian huruf, kata, frasa, dan kalimat, namun juga “membaca” dalam arti memaknai rangkaian peristiwa kehidupan multi-dimensi. Jika mendidik berarti mengajarkan bagaimana memaknai seluruh pengalaman hidup, maka mendidik berarti mengajarkan bagaimana caranya membaca.

Bagaimana masyarakat Indonesia tidak membaca (secara literer) bisa dilihat dari jumlah buku baru yang terbit di negeri ini : 8000 judul/tahun. Bandingkan dengan Malaysia yang menerbitkan 15000 judul/tahun, Vietnam 45.000 judul/tahun, sementara Inggris menerbitkan 100.000 judul/tahun ! Jumlah judul buku baru yang ditulis, dan diterbitkan, kemudian dibaca oleh sebuah masyarakat menunjukkan kapasitasnya menggagas, dan melahirkan gagasan-gagasan baru. Kesimpulannya jelas : bangsa miskin adalah bangsa yang miskin gagasan. Pendidikan yang memperkaya gagasan dengan demikian merupakan strategi terpenting memerangi kemiskinan.

Akibat intervensi teknologi televisi, bangsa ini melompat dari budaya tutur, ke budaya menonton. Kita tidak sempat membangun budaya membaca. Banyak orang membeli produk-produk teknologi terbaru, namun tidak pernah membaca manual produk-produk tersebut. Banyak instruksi tertulis disebarkan (seperti “dilarang merokok”, atau “dilarang membuang sampah di sembarang tempat”) tidak “terbaca” sama sekali. Banyak Juklak, dan Juknis yang tidak dibaca, tidak dipahami, lalu tidak terimplementasikan dengan baik. Indonesia hanyalah sebuah gagasan Indonesia hanyalah sebuah gagasan, tidak lebih tidak kurang. Yang bisa kita lihat (sebagai pengalaman visual-spasial) sehari-hari dari kejauhan hanyalah bentangan laut biru, gugusan pulau, gunung dan lembah, hamparan sawah menghijau, kelok sungai, dan rumah di cakrawala. Kemampuan rakyat Indonesia untuk menggagas secara langsung akan mempengaruhi gambaran mental mereka tentang Indonesia. Konsep atau gagasan lain yang lebih kompleks dan abstrak seperti kebangsaan, nasionalisme memerlukan kemampuan menggagas yang lebih tinggi.

Masyarakat yang tidak membaca akan mengalami kesulitan menghargai konsep-konsep abstrak yang penting dalam kehidupan berbangsa ini. Menurut Kant, ada 2 gagasan yang penting yang kita pakai sebagai pijakan untuk memahami gagasan-gagasan lain yang lebih rumit, dan kemudian memahami semua pengalaman hidup : ruang dan waktu. Bagi Kant, ruang dan waktu adalah kerangka pikir (framework) yang kita butuhkan untuk memaknai semua pengalaman hidup (to structure sensual experiences). Waktu adalah sebuah pengurutan peristiwa (ordering of events), sedangkan ruang adalah tempat di mana rangkaian peristiwa tersebut terjadi. Dalam konteks ini harus dikatakan, sejarah (rangkaian peristiwa di masa lampau) Indonesia adalah bagian penting bagi pemahaman kita tentang Indonesia. Kegagalan kita membangun masyarakat yang membaca secara langsung akan menggerogoti kapasitas kita memahami sejarah Indonesia, dan Indonesia sebagai konstruksi rangkaian peristiwa di sebuah ruang Nusantara. Strategi Budaya : Pendidikan liberal arts Sayang sekali, pendidikan kita (kini telah merembet ke pendidikan dasar), beberapa dekade terakhir ini terlampau mendewa-dewakan sains dan matematika. Mereka yang paling berbakat hampir selalu dianjurkan untuk mengambil jurusan-jurusan IPA (teknik, dan kedokteran), bukan ke sastra, atau hukum, apalagi sejarah. Pendidikan bahasa kita buruk sekali. Guru-guru bahasa Indonesia keluaran IKIP atau eks-IKIP adalah guru kualitas-tiga. (kualitas satu tidak ke IKIP sama sekali, kualitas dua adalah guru matematika dan sains). Carut marut dunia hukum di Indonesia bisa dijelaskan dari sudut pandang ini. Pendidikan bahasa yang buruk adalah resep mujarab bagi pendidikan sejarah yang buruk, apalagi pendidikan sejarah tidak menentukan kelulusan murid. Siapa yang tertarik belajar sejarah saat ini ? Bahkan Pemerintah-pun tidak suka buku-buku sejarah (buku-buku sejarah yang “tidak benar” ditarik dari peredaran, lalu dibakar !). Bagaimana kita bisa mengapresiasi waktu, dan masa depan, serta perencanaan (planning) sebagai proses mendesain masa depan, jika kita tidak mengapresiasi sejarah ? Negatif. Pendidikan dasar kita juga meremehkan pendidikan seni dan olah raga. Hampir semuanya diabdikan untuk sains dan matematika. Anak yang kurang berhasil di bidang matematika dan sains digolongkan menjadi murid yang ”tidak berprestasi”. Prestasi dalam Olimpiade sains dan matematika dijadikan ukuran keberhasilan pendidikan.

Pendidikan seni terbengkalai (kecuali bagi sebagian kecil anak Indonesia dari golongan kaya), terutama musik, padahal pendidikan musik memberikan pengalaman audi-temporal yang penting untuk memupuk kepekaan kita terhadap waktu, serta melatih pendengaran kita. Banyak dari kita kesulitan mendengarkan, bukan karena tuli, namun karena tidak terpapar pendidikan musik yang baik. Dari pendidikan musik, murid belajar tempo, ritme, dinamika. Dari pendidikan musik (juga olahraga) kita tahu betapa timing menentukan. Banyak riset menunjukkan secara jelas, bahwa pendidikan musik juga meningkatkan prestasi akademik mahasiswa kedokteran dan teknik. Kebanyakan insinyur yang bekerja di Silicon Valley adalah pemain musik aktif. Negeri maju sebagai produsen banyak produk teknologi memiliki disiplin waktu yang sehat. Ketidakmemadaian paparan terhadap pengalaman temporal menyebabkan murid tidak peka waktu. Ketidakpekaan kita terhadap waktu adalah resep bagi ketidakdisiplinan waktu. Kita mentoleransi keterlambatan dan kelambatan. Budaya “jam karet” di mana-mana, sejak di kantor-kantor pemerintah, perjanjian bisnis, pertemuan di sekolah, sampai di terminal bandara udara.

Mahasiswa Indonesia yang lulus tepat waktu kurang dari 30%. Kemiskinan gagasan dan ketidakdisiplinan terhadap waktu merupakan 2 penyebab utama keterbelakangan bangsa ini. Pendidikan olah raga tidak saja menyehatkan, namun juga melatih koordinasi tubuh individual dan tim, serta memberi pengalaman spasial dan temporal yang penting (seperti kecepatan gerak dalam ruang). Oleh karena itu mudah dipahami jika masyarakat yang tidak terlatih secara spasial banyak melakukan pelanggaran tata ruang seperti tinggal di bantaran sungai dan tepian rel kereta api. Sebuah laporan baru-baru ini menunjukkan, 50% murid SD Indonesia kondisi kebugaran jasmaninya memprihatinkan. Ini menjelaskan mengapa prestasi olahraga Indonesia akhir-akhir ini merosot, dan kita kesulitan menemukan satu tim sepakbola dari sekian ratus juta penduduk Indonesia untuk menjadi juara ASEAN, apalagi ASIA.

Kita membutuhkan strategi budaya untuk mempertahankan Indonesia sebagai negara-bangsa, dan bangkit menjadi pemain dunia yang diperhitungkan. Pendidikan dasar kita harus mengakomodasi liberal arts secara tersistem, bukan sekedar ekstra-kurikuler, dan lebih diarahkan pada kompetensi-kompetensi afektif dan motorik. Pendewa-dewaan sains dan matematika harus diakhiri. Penghargaan pada seni dan olahraga tidak saja membuka bidang-bidang kehidupan baru yang penting secara ekonomi, namun akan juga menjadi basis sektor kreatif kita. Melalui pendidikan liberal arts ini kita memberikan bekal pada murid kemampuan “membaca” kehidupan, dan mengapresiasinya sebagai pengalaman spasial-temporal yang terbatas, dan singkat. Life is too damn short.

Sumber : Daniel Rosyid’s World (dengan sedikit perubahan)

0 komentar:

Poskan Komentar