Selasa, 18 Januari 2011

Perpustakaan Alexandria

Perpustakaan Alexandria atau Perpustakaan Iskandariyah adalah pernah menjadi perpustakaan terbesar di dunia. Dia biasanya dianggap didirikan pada awal abad ke-3 SM pada masa pemerintahan Ptolemeus II dari Mesir setelah bapaknya mendirikan kuil Muses, Musaeum (yang merupakan asal kata "Museum"). Pengaturan awal dilakukan oleh Demetrius Phalareus. Perpustakaan ini diperkirakan menyimpan sekitar 400.000 sampai 700.000 naskah pada masa puncaknya.

Sekarang Bibliotek Alexandria diresmikan pada 2003 dekat lokasi di mana perpustakaan ini dulu berdiri.


Proses pembuatan legenda

Perpustakaan Alexandria lama

Pada zaman dahulu, kota Alexandria (Iskandariyah) terkenal dengan bangunannya yang termasyhur namun sekarang sudah lenyapseperti Faros, mercusuar kuno yang konon tingginya mencapai 110 meter dan diangap sebagai salah satu dari tujuh keajaiban dunia, dan makam Alexander yang Agung. Dinasti Yunani, Ptolemeus mewarisi Mesir dari Alexander dan menguasai negeri itu sampai Caesar Octavianus Augustus mengalahkan Antonius dan Cleopatra pada tahun 30 SM. Dibawah Ptolemeus, Aleksandria berubah secara drastis. Sesungguhnya, kota itu "Selama suatu masa menjadi pusat perdagangan dan budaya dunia", menurut Atlas of the Greek World. Pada puncak kejayaannya. Aleksandria berpenduduk sekitar 600.000 jiwa.

Daya tarik kota itu adalah perpustakaan kerajaannya. Didirikan pada awal abad ketiga Sebelum Masehi (SM) dan disponsori sepenuhnya oleh keluarga Ptolemeus, perpustakaan itu beserta kuil dewi-dewi Muse menjadi pusat ilmu pengetahuann dalam dunia Helenik.

Konon, perpustakaan ini memiliki 700.000 gulungan papirus. Sebagai perbandingan, pada abad ke-14, Perpustakaan Sorbonne yang katanya memiliki koleksi terbesar dizamannya hanya memiliki 1700 buku. Para penguasa Mesir begitu bersemangat untuk memperbanyak koleksi mereka sampai-sampai mereka memerintahkan prajurit untuk menggeledah setiap kapal yang masuk guna memperoleh naskah. Jika ada naskah yang ditemukan, mereka menyimpan yang asli dan mengembalikan salinannya. Menurut beberapa sumber, ketika Athena meminjamkan naskah-naskah drama klasik Yunani asli yang tak ternilai kepada Ptolemeus III, ia berjanji membayar uang jaminan dan menyalinnya. Tetapi sang raja malah menyimpan yang asli, tidak mengambil kembali uang jaminan itu, dan memulangkan salinannya.

Deretan panjang nama-nama pemikir besar yang bekerja di perpustakaan dan museum Aleksandria mencakup para cendikiawan kelas dunia. Para cendekiawan di Aleksandria menghasilkan karya-karya besar dalam bidang geometri, trigonometri, dan astronomi, serta bahasa, kesusastraan dan kedokteran. Menurut kisah turun-temurun, di tempat inilah ke-72 cendekiawan Yahudi menerjemahkan Kitab-kitab bahasa Ibrani ke dalam bahasa Yunani, dengan demikian menghasilkan Septuaginta yang termasyhur itu.

Perpustakaan itu lenyap

Ironisnya, para panitera merasa tidak perlu menguraikan bangunan-bangunan umum Aleksandria secara terperinci. Sebab pernyataan Athenaus, sejarahwan abad ketiga, adalah contoh yang khas, yakni "Menyangkut jumlah buku, pendirian perpustakaan-perpustakaan, dan koleksi di Balai Dewi-Dewi Muse, buat apa saya ceritakan, karena semua itu ada dalam ingatan orang-orang?"

Komentar-komentar semacam itu membuat frustasi cendikiawan modern, yang ingin sekali mengetahui lebih banyak tentang perpustakaan kuno yang mempesona ini.

Sewaktu bangsa Arab menaklukkan Mesir pada tahun 640, perpustakaan Alexandria kemungkinan sudah tidak ada. Para cendikiawan masih berdebat tentang bagaimana dan kapan tepatnya perpustakaan itu lenyap. Ada yang mengatakan bahwa banyak isinya mungkin hilang sewaktu Julius Caesar membakar sebagian kota itu pada tahun 47. Apa pun penyebabnya, lenyapnya perpustakaan itu menyebabkan hilangnya segudang pengetahuan. lenyap pula ratusan karya penulis drama Yunani serta catatan tentang 500 tahun pertama sejarah Yunani kecuali beberapa karya Herodotus, Tusidides dan Xenopon.

Antara abad ketiga dan keenam Masehi kota Alexandria sering mengalami kerusuhan, pertikaian dan peperangan antara Orang Yahudi, Orang Kristen dan agama lain. Sehingga tak terhitung banyaknya naskah naskah kuno yang musnah. Hal ini serupa dengan kejadian pada perpustakaan-perpustakaan di Baghdad ketika penyerbuan Genghis Khan dari bangsa Mongol ke Timur Tengah, bahkan sama ketika perpustakaan Bagdad mengalami penjarahan kembali ketika penyerbuan Amerika Serikat pada tahun 2003 lalu.

Menghidupkan kembali kemuliaan masa silam

Perpustakaan yang dibangun kembali ini dibuka pada bulan Oktober 2002 dan berisi sekitar 400.000 buku ditambah dengan sistem komputer yang modern dan mutakhir memungkinkan pengunjung mengakses koleksi perpustakaan lain. koleksi utamanya dititik beratkan pada peradaban Mediterannia bagian timur. Perpustakaan baru ini memiliki kapasitas 8.000.000 buku.

Syuro 1432 H di kajen





Awal bulan muharrom yang indah,dimana bulan ini biasa dg panggilan bulan Syuro.
Syuro yang indah dan rame bisa kita rasakan di daerah pedesaan kajen-pati, di mana di sini juga bisa dikatakan sebagai kota santri, karena banyak pondok yang berdiri di kajen dan sekitarnya.Syuro inilah bhodo bagi penduduk kajen, karena pada bulan ini yang bertepatan juga dengan haulnya mbah mutamakkin(Wali desa kajen yang bisa dibilang termasyhur se-karisedanan kota pati).Dimana orang-orang kajen banyak yang menyiapkan makanan atau jajan bagi tamu mereka,kalo biasanya kita menyiapkan pas pada hari raya idul fitri, kalo di sini pasti pada syuro,karena apa? karena pada saat itu kerabat-keabat yang jauh pada datang untuk ngaji di makamnya mbah mutamakkin dan sekalian mereka mengunjungi kerabat mereka yang berada di kajen. Dan pada syuro itu pula anak-anak pondok banyak yang disambangi oleh orang tua mereka.Karena orang tua mereka juga sekalian ngaji di makamnya mbah mutamakkin dan sowan neng dalemnya kyai-kyai setempat.

Syuro kali ini seperti biasanya dimeriahkan oleh karnafal dari berbagai sekolah dan pondok yang berada disekitar kajen yang tak ketinggalan dari sekolah Matholi'ul Falah,mereka menampilkan kehebatan mereka masing-masing pada hari karnaval tesebut.Dan seperti biasanya banyak zairin-zairot yang ikut melihat kebolehan mereka.Dan dari matholi'ul Falah sendiri juga menghadirkan bazar buku yang dibuka selama 4 hari dan pengajian umum dan juga di LPBA kajen juga membuka bazar buku,maka tak ketinggalan pula kampus STAIMAFA juga menghadirkan bazar buku, donor darah, hataman dan lain-lain.

Perpustakaan parlemen jepang

Perpustakaan Parlemen Jepang
Kokuritsu Kokkai Toshokan
Bahasa Inggris National Diet Library
NDL Tokyo.jpg

Perpustakaan Parlemen Jepang


Perpustakaan Parlemen Jepang (国立国会図書館 Kokuritsu Kokkai Toshokan?, bahasa Inggris: National Diet Library, disingkat NDL) adalah perpustakaan yang memberi layanan referensi bagi Parlemen Jepang, lembaga eksekutif, dan masyarakat umum di Jepang. Perpustakaan ini adalah perpustakaan parlemen yang membantu parlemen dalam membuat undang-undang, sekaligus perpustakaan nasional (perpustakaan deposit) yang mengumpulkan dan menyimpan semua terbitan yang diterbitkan di Jepang.

Perpustakaan pusat berada di dua lokasi: Gedung Utama Tokyo di Nagatachō, distrik kota Chiyoda, Tokyo dan Perpustakaan Parlemen Jepang Gedung Kansai di Seika, Distrik Sōraku, Kyoto, Prefektur Kyoto. Perpustakaan perwakilan yang melayani anggota parlemen berada di Gedung Parlemen Jepang.

Selain Perpustakaan Internasional Bacaan Anak, Toyo Bunko, dan Perpustakaan Mahkamah Agung Jepang, Perpustakaan Parlemen Jepang mendirikan perpustakaan cabang di 25 lembaga pemerintah. Perpustakaan Internasional Bacaan Anak di Taman Ueno menyimpan bahan pustaka untuk pembaca berusia 17 tahun ke bawah. Di distrik Bunkyō, Toyo Bunko menyimpan koleksi bahasa-bahasa Asia termasuk koleksi milik Yayasan Toyo. Duapuluh lima perpustakaan lembaga pemerintah yang sekaligus menjadi cabang Perpustakaan Parlemen Jepang adalah:

  1. Perpustakaan Dewan Pemeriksa Keuangan
  2. Perpustakaan Biro Legislatif Kabinet
  3. Perpustakaan Badan Kepegawaian Negara
  4. Perpustakaan Sekretaris Kabinet
  5. Perpustakaan Dewan Sains Jepang
  6. Perpustakaan Badan Rumah Tangga Kekaisaran
  7. Perpustakaan Komisi Perdagangan Bebas
  8. Perpustakaan Badan Polisi Nasional
  9. Perpustakaan Badan Layanan Keuangan
  10. Perpustakaan Kementerian Dalam Negeri dan Komunikasi
  11. Perpustakaan Biro Statistik Jepang
  12. Perpustakaan Kementerian Kehakiman
  13. Kementerian Luar Negeri
  14. Kementerian Keuangan
  15. Perpustakaan Kementerian Pendidikan
  16. Perpustakaan Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Sosial
  17. Perpustakaan Kementerian Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan
  18. Perpustakaan Badan Kehutanan
  19. Perpustakaan Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri
  20. Perpustakaan Kantor Paten Jepang
  21. Perpustakaan Kementerian Pertanahan, Infrastruktur, Perhubungan, dan Pariwisata
  22. Perpustakaan Badan Meteorologi Jepang
  23. Perpustakaan Satuan Penjaga Pantai
  24. Perpustakaan Kementerian Lingkungan Hidup
  25. Perpustakaan Kementerian Pertahanan.

Sebagai lembaga negara independen di bawah Parlemen Jepang, perpustakaan ini berada di bawah pengawasan Ketua Majelis Rendah dan Ketua Majelis Tinggi, serta Komite Pengarah Parlemen yang merupakan panitia kerja dari kedua kamar di parlemen. Kepala Perpustakaan Parlemen Jepang bertanggung jawab kepada ketua majelis rendah dan majelis tinggi.

Sejarah

Perpustakaan ini berawal dari 3 perpustakaan terpisah: Perpustakaan Kekaisaran yang berada di bawah Kementerian Pendidikan Jepang, Perpustakaan Majelis Bangsawan, dan Perpustakaan Majelis Rendah Jepang. Perpustakaan Majelis Bangsawan dan Perpustakaan Majelis Rendah didirikan tahun 1891, sementara Perpustakaan Kekaisaran didirikan tahun 1872.

Seusai Perang Dunia II, Konstitusi Jepang menetapkan Parlemen Jepang sebagai satu-satunya lembaga pembuat hukum. Pada tahun 1947, pasal 130 Undang-Undang Parlemen (Kokkaihō) tahun 1947 menetapkan pendirian perpustakaan parlemen sebagai lembaga riset di parlemen. Undang-undang tersebut diikuti Undang-Undang Perpustakaan Parlemen Jepang tahun 1947 yang menetapkan pembentukan Perpustakaan Parlemen Jepang dari penggabungan perpustakaan di Majelis Rendah dan Majelis Bangsawan. Perpustakaan yang dibentuk dinyatakan kurang memadai sebagai pusat riset. Oleh karena itu, konsultan perpustakaan diundang dari Amerika Serikat. Setelah pendapat mereka didengar di parlemen, Undang-Undang Perpustakaan Parlemen Jepang ditetapkan pada tahun 1948 yang sekaligus membatalkan undang-undang serupa tahun 1947. Dalam penyusunannya, undang-undang tahun 1948 sangat dipengaruhi oleh konsultan perpustakaan dari Amerika Serikat. Perpustakaan Kongres Amerika Serikat dijadikan sebagai model sewaktu mendirikan Perpustakaan Parlemen Jepang. Sama halnya dengan Perpustakaan Kongres, Perpustakaan Parlemen Jepang didirikan sebagai perpustakaan parlemen sekaligus perpustakaan nasional.

Ruang baca Perpustakaan Parlemen Jepang di Istana Akasaka, tahun 1948

Kepala perpustakaan yang pertama adalah ahli hukum Tokujirō Kanamori yang mantan Menteri Negara Konstitusi ketika Konstitusi Jepang ditulis. Setelah perpustakaan didirikan tanggal 25 Februari 1948, ahli estetika Masakazu Nakai, mantan Kepala Perpustakaan Kota Onomichi diangkat sebagai wakil kepala. Istana Akasaka dipilih sebagai gedung sementara sebelum perpustakaan dibuka secara resmi pada 5 Juni 1948.

Tahun berikutnya, Perpustakaan Nasional di Ueno (Perpustakaan Kekaisaran) yang selama ini berfungsi sebagai perpustakaan deposit digabung dengan perpustakaan pusat di Istana Akasaka. Bekas gedung Perpustakaan Kekaisaran di Ueno dijadikan ruang penyimpanan, dan diganti namanya menjadi Perpustakaan Cabang Ueno. Tanah bekas gedung Kedutaan Besar Jerman di Nagatachō (sebelah utara Gedung Parlemen), dipilih sebagai lokasi gedung utama yang baru. Gedung dirancang oleh arsitek Kunio Maekawa yang memenangi lomba desain arsitektur gedung. Setelah tahap pertama pembangunan selesai pada tahun 1961, koleksi mulai dipindahkan ke gedung baru. Koleksi yang dipindahkan ke gedung utama adalah sekitar 1 juta buku koleksi Perpustakaan Majelis Rendah dan Perpustakaan Majelis Bangsawan dari Istana Akasaka, dan 1 juta buku koleksi sebelum perang Perpustakaan Kekaisaran dari Perpustakaan Ueno. Pada 1 November 1961, gedung utama dibuka dengan koleksi sejumlah 2 juta 50 ribu buku.

Gedung utama Tokyo

Walaupun perpustakaan sudah dibuka untuk umum, pembangunan gedung utama terus berlanjut. Bagian layanan dipindahkan dari gedung bekas Markas Staf Umum Angkatan Darat di Miyakezaka, Tokyo ke gedung utama. Setelah itu, layanan yang berada di tiga lokasi terpisah (Akasaka, Ueno, dan Miyakezaka) juga dipindahkan ke gedung utama. Pembangunan gedung utama selesai pada tahun 1968. Selain untuk ruang kantor, gedung berlantai 6 dan 1 lantai bawah tanah ini dapat menampung sejumlah 17 tingkat rak buku.

Pada tahun 1970-an, koleksi dan pengunjung terus bertambah. Gedung utama makin bertambah sempit hingga diperlukan gedung baru. Arsitek Kunio Maekawa kembali merancang gedung baru di sisi utara gedung utama. Gedung ini berlantai 12, termasuk 8 lantai bawah tanah yang luas untuk penyimpanan koleksi. Setelah gedung baru selesai dan dibuka pada tahun 1986, kapasitas ruang penyimpanan bertambah menjadi 12 juta buku. Walaupun demikian, ruang penyimpanan diperkirakan akan penuh di awal abad ke-21. Oleh karena itu, perencanaan gedung perpustakaan tahap kedua sudah dimulai sejak tahun 1980-an. Koleksi menurut rencana disimpan di dua lokasi yang terpisah. Hasilnya adalah Perpustakaan Parlemen Jepang Gedung Kansai di Kota Sains Kansai yang dibuka tahun 2002. Gedung Kansai antara lain sebagai tempat penyimpanan koleksi bidang sains, bahasa-bahasa Asia, dan disertasi doktoral dalam negeri.

Hampir bersamaan dengan dibukanya Gedung Kansai, Perpustakaan Cabang di Ueno direnovasi dan dibuka kembali sebagai Perpustakaan Internasional Bacaan Anak. Setelah selesai, perpustakaan dipakai untuk menyimpan koleksi bacaan anak (buku untuk usia 17 tahun dan ke bawah) sekaligus pusat nasional bacaan anak. Perpustakaan Internasional Bacaan Anak dibuka sebagian pada 5 Mei 2000, dan dibuka secara resmi pada 5 Mei 2002.

Di abad ke-21, Perpustakaan Parlemen Jepang berkonsentrasi pada pengembangan basis data dan perpustakaan digital. Berdasarkan Undang-Undang Perpustakaan Parlemen Jepang tahun 2005, kedudukan kepala perpustakaan tidak lagi setingkat menteri. Pada tahun 2007, Makoto Nagao (mantan rektor Universitas Tokyo) diangkat sebagai kepala perpustakaan. Pengangkatan tersebut menjadikannya sebagai kepala Perpustakaan Parlemen Jepang pertama yang bukan berasal dari pegawai parlemen.

Koleksi

Menurut statistik perpustakaan tahun 2006, total bahan pustaka yang disimpan di Perpustakaan Parlemen Jepang di Gedung Utama Tokyo, Gedung Kansai, dan Perpustakaan Internasional Bacaan Anak adalah 8.833.407 buku, 8.097.514 majalah, 3.751.248 surat kabar. Total koleksi bahan nonbuku yang terdiri dari mikrofilm, peta, notasi musik, bahan audio visual, media simpan elektronik, lukisan, foto, dan bahan pustaka berhuruf braille adalah 12.957.816 buah.[1]

Koleksi disusun menurut sistem Klasifikasi Perpustakaan Parlemen Jepang (National Diet Library Classification, disingkat NDLC) dan Tajuk Subyek Perpustakaan Parlemen Jepang (National Diet Library Subject Heading, disingkat NDLSH). Katalog perpustakaan bisa diakses melalui situs web NDL-OPAC[2]

Perpustakaan Parlemen Jepang memiliki basis data teks lengkap dan basis data terpadu.

  • Perpustakaan digital zaman Meiji (Kindai Digital Library)
  • Basis data buku langka
  • Dnavi: basis data situs web
  • WARP: arsip web terutama situs pemerintah daerah di Jepang
  • Porta: basis data terpadu untuk teks lengkap, katalog,