Senin, 16 April 2012

Perancangan Mutu Layanan Perpustakaan Sekolah Dasar

Moto long life education adalah simbol yang melekat pada fungsi perpustakaan yang menjadi institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan atau karya rekam buat pemustaka. Perpustakaan juga sebagai pemberi layanan, penumbuh minat baca, pencetak wawasan dan pengetahuan pemustaka. Atas fungsi ini, keberadaan perpustakaan memberikan pengaruh kepada tinggi atau rendah peradaban dan budaya suatu masyarakat dapat dilihat dari kondisi perpustakaan yang dimiliki.
Lembaran sejarah membuktikan, Jepan[1] menjadi gurita dunia hanya gara-gara ”toshokan” -perpustakaan- yang tidak terpisahkan dalam kehidupan masyarakat. Di setiap kota Jepang, populasi penduduk di atas 50 ribu jiwa dibangun perpustakaan umum. Terdapat hampir 3.000 perpustakaan umum dan lebih dari 7.200 perpustakaan professional. Jumlah ini termasuk 63 perpustakaan tingkat provinsi, 1.636 perpustakaan kota dan 1.033 perpustakaan kota kecil. Pengelolaan yang baik menghasilkan kutu-kutu buku terbesar di dunia. Tercatat, setiap tahun sebanyak 550 juta buku yang dipinjam oleh masyarakat, atau sekitar 4,5 buku yang dipinjam setiap penduduk di Jepang.
Berbeda dengan kondisi di atas, perpustakaan-perpustakaan Indonesia kondisi kurang baik. Berdasarkan data di situs Departemen Kebudayaan dan Pariwisata[2] menunjukkan selama tahun 2006 sampai tahun 2008 terjadi penurunan pengunjung perpustakaan, masing-masing tercatat 4.708.016 orang,  4.433.688 dan 4.421.739 orang.
Agaknya, data di atas memberikan petunjuk bahwa perpustakaan di Indonesia menghadapi persoalan besar, mulai dari keterbatasan sarana prasarana, sumber daya manusia handal, kesadaran masyarakat hingga komitmen pemerintah dalam mengelolah. Sebagai pemisalan, Undang-undang 43 Tahun 2007 mengharuskan ketersediaan layanan perpustakaan secara merata di wilayah masing-masing. Pemerintah daerah diwajibkan menjamin kelangsungan penyelenggaraan dan pengelolaan perpustakaan sebagai pusat sumber belajar masyarakat. Kenyataannya bagaimana? Rachmananta[3] menyentil dengan ungkapan bahwa perpustakaan, khususnya sekolah dasar tidak dikelola secara baik Menurutnya, pengelolaan perpustakaan salah paradigma karena banyak mengklaim perpustakaan sebagai sarana penghambur dan bukan penghasil uang. Ungkapan ini terdapat pembenaran jika kita menelusuri lorong-lorong perpustakaan, khususnya perpustakaan sekolah dasar. Di sini terjadi kondisi bahwa keberadaan perpustakaan dianaktirikan karena didirikan hanya sebagai pelengkap. Data Departemen Pendidikan Nasional mencatat bahwa tahun 2008 hanya 32 persen sekolah dasar memiliki perpustakaan. Kondisi ini semakin diperparah dengan kondisi perpustakaan sekolah dasar hanya dikelola guru yang merangkap pustakawan.
Tentu saja, sekelumit masalah yang terjadi di atas perlu dicarikan solusi berupa pikiran, ide dan gagasan agar masyarakat tidak rabun terhadap perpustakaan. Untuk itu, tulisan ini bertujuan memberikan menawarkan konsep dalam merancang perpustakaan ideal melalui gagasan perancangan mutu layanan perpustakaan sekolah dasar.
B. Permasalahan dan Tujuan Penulisan
Sesuai pemikiran di bagian pendahuluan di atas, tulisan berikut ini memiliki permasalahan, yaitu bagaimanakah perancangan mutu layanan perpustakaan sekolah dasar?
Untuk itu, tujuan tulisan ini adalah untuk mengetahui perancangan mutu layanan perpustakaan sekolah dasar.
C. Landasan Teori
Secara umum, perpustakaan sekolah diartikan sebagai institusi kerja yang menyimpan koleksi bahan pustaka secara sistematis dan mengelolanya dengan cara khusus sebagai sumber informasi dan dapat digunakan oleh pemakainya.
Dalam pengertian lain, Sulistiyo, Basuki: 1991[4] mengartikan perpustakaan sebagai sebuah ruangan atau gedung yang digunakan untuk menyimpan buku dan terbitan lainnya yang biasanya disimpan menurut tata susunan tertentu yang digunakan pembaca bukan untuk dijual. Ada dua unsur utama dalam perpustakaan, yaitu buku dan ruangan. Namun, di zaman sekarang, koleksi sebuah perpustakaan tidak hanya terbatas berupa buku-buku, tetapi bisa berupa film, slide, atau lainnya, yang dapat diterima di perpustakaan sebagai sumber informasi. Kemudian semua sumber informasi itu diorganisir, disusun teratur, sehingga ketika kita membutuhkan suatu informasi, kita dengan mudah dapat menemukannya. Bahkan, saat ini pengertian tradisional dan paradigma lama mulai tergeser seiring perkembangan berbagai jenis perpustakaan, variasi koleksi dalam berbagai format memungkinkan perpustakaan secara fisik tidak lagi berupa gedung penyimpanan koleksi buku.
Selama ini, menumbuhkan minat baca di kalangan anak-anak, khususnya anak bukan menjadi tanggung jawab orang tua di rumah, melainkan menjadi tanggung jawab pihak sekolah. Orang tua memercayakan putra-putrinya untuk dididik oleh guru dalam sebuah proses yang dinamakan proses belajar-mengajar.
Padahal, penanaman kebiasaan membaca selagi otak mengalami masa perkembangan paling pesat perlu dilakukan sejak awal. Jika orang tua sejak dini sudah membiasakan membacakan buku cerita pada anak, mereka sebenarnya sudah mengenalkan anak pada dunia yang mengasyikkan. Kebiasaan ini akan menentukan kesuksesan akademik mereka di kemudian hari. Di sinilah keberadaan perancangan mutu layanan perpustakaan sekolah dasar diperlukan.
Konsep perancangan mutu layanan perpustakaan sekolah dasar yang ditawarkan penulis didasarkan pada penelitian ahli pendidikan[5], menyatakan bahwa pembentukan potensi belajar sebanyak 50 persen terjadi di usia 0 -  4 tahun, 30 persen pada di usia 4 – 8 tahun, dan 20 persen pada usia 8 – 12 tahun. Lanjutnya, penanaman kebiasaan membaca semestinya muncul selagi otak mengalami masa perkembangan paling pesat. Ia perlu digerakkan sejak awal. Jika orang tua termasuk guru sejak dini sudah membiasakan membacakan buku cerita pada anak, mereka sebenarnya sudah mengenalkan anak pada dunia yang mengasyikkan. Kebiasaan ini akan menentukan kesuksesan akademik mereka di kemudian hari.
Konsep yang diutarakan oleh Fredick Mc Donald (Sutardjo[6], 2005) menyatakan bahwa membaca merupakan rangkaian respon yang kompleks, di antaranya mencakup respon kognitif, sikap dan manipulatif. Membaca tersebut dapat dibagi menjadi beberapa sub keterampilan, yang meliputi: sensori, persepsi, sekuensi, pengalaman, berpikir, belajar, asosiasi, afektif, dan konstruktif. Menurutnya, aktiivitas membaca dapat terjadi jika beberapa sub keterampilam tersebut dilakukan secara bersama-sama dalam suatu keseluruhan yang terpadu.
Dalam hal ini, penelitian di bidang neurologi menyebutkan selama tahun-tahun pertama, otak anak berkembang pesat dengan menghasilkan neuron yang banyaknya melebihi kebutuhan. Sambungan itu harus diperkuat melalui berbagai rangsangan karena sambungan yang tidak diperkuat dengan rangsanganakan mengalami atrohy atau mengalami penyusutan dan pemusnahan. Banyaknya sambungan inilah yang mempengaruhi kecerdasan anak. Dosis rangsangan yang tepat dan seimbang akan mampu melipatgandakan kemampuan otak 5 hingga 10 kali  kemampuan sebelumnya. Oleh karena itu, rangkaian respon yang dimunculkan dari membaca menjadi manipulasi nyata untuk memajukan pembaca-pembaca perpustakaan di masa mendatang. Di sinilah diperlukan perancangan mutu layanan perpustakaan sekolah dasar mengingat ‘gersangnya’ pembaca dan kehadiran perpustakaan ini.
D. Pembahasan
Perancangan mutu layanan perpustakaan sekolah dasar yang ditawarkan penulis menganut konsep perangsangan agar membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani murid sehingga memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.  Beberapa perancangan mutu layanan sekolah dasar  perlu dilakukan.
Pertama, perancangan mutu layanan perpustakaan sekolah dasar memiliki sifat terbuka dan terjangkau, yaitu perpustakaan yang dapat diakses oleh siapapun tanpa membedakan status sosial, ekonomi, agama, suku, ras, dan golongan.  Golongan menengah ke bawah yang selama ini terpinggirkan sangat memungkinkan untuk memanfaatkan karena bersifat gratis dan berlangsung di setiap sekolah dasar.
Kedua, perancangan mutu layanan perpustakaan sekolah dasar juga memiliki sifat ketersediaan. Untuk meningkatkan kecerdasan berbahasa ini memerlukan ketersediaan buku-buku kumpulan gambar binatang, gambar tumbuhan, pemandangan alam, panca indera, anatomi tubuh,  huruf, angka, dan cerita  bergambar.
Ketiga, mutu layanan harus memiliki fungsi rekreatif dan menyenangkan. Layanan perpustakaan sekolah dasar ditujukan untuk mengembangkan kemampuan berbahasa seperti mendengar, berbicara, membaca, menulis, dan menyimak. Untuk meningkatkan kualitas layanan maka secara berjangka digelar  layanan mendongeng agar tercipta komunikasi dua arah antara pendongeng dan anak-anak. Prosesi mendongeng tak perlu disampaikan sampai tamat, cukup sampai pertengahan. Hal ini bertujuan agar sang anak yang mencari dan belajar membaca’sendiri buku tersebut. Dengan demikian terjadilah sinergi antara tradisi lisan dan tradisi baca.  Di samping itu, menumbuhkan semangat membaca sejak dini maka pepustakaan khusus balita juga disiapkan layanan alat dan bentuk permainan. Alat permainan edukatif dapat menjadi pilihan cerdas perpustakaan untuk membuat anak-anak betah bermain di ruang layanan anak. Penggunaan alat permainan edukatif ini memiliki manfaat, pertama,  untuk membantu perkembangan emosi sosial anak. Balok bangunan, aneka macam mozaik, puzel lantai, dan papan permainan menurut para ahli sangat bermanfaat bagi anak untuk belajar menguasai emosi sosialnya. Tujuannya agar Perancangan mutu layanan perpustakaan sekolah dasar adalah tempat menyenangkan. Dalam perkembangan selanjutnya diharapkan anak tidak  menganggap membaca, menulis, dan berhitung sebagai pekerjaan yang membosankan melainkan menyenangkan.
Keempat, layanan pustakawan juga memerlukan perhatian. Pustakwan sebagai seorang yang menyelenggarakan kegiatan perpustakaan dengan jalan memberikan pelayanan kepada murid  sesuai dengan tugas lembaga induknya berdasarkan ilmu yang dimiliki melalui pendidikan. Untuk itu, jika selama ini guru-guru sekolah banyak yang merangkap pustawan harus menjadi pertimbangan besar dalam merancang mutu layanan perpustakaan sekolah dasar.  Merekak yang merangkap jadi pustawan perlu menjadi perhatian dengan diberikan  kompetensi pustakawan melalui melalui pendidikan dan/atau pelatihan kepustakawanan sehingga mempunyai tugas dan tanggungjawab melaksanakan pengelolaan dan pelayanan perpustakaan. Di samping itu, peran guru-guru matematika, bahasa Indonesia hingga kesenian dituntut pula. Mereka memiliki peran pesar untuk memanfaat perpustakaan sehingga  peningkatan kompetensi melalui pendidikan dan/atau pelatihan kepustakawanan juga perlu diberikan.
Penutup
Keberadaan perpustakaan sekolah dasar adalah sangat penting. Ibarat tubuh manusia, perpustakaan sekolah dasar adalah organ jantung yang bertugas memompa darah ke seluruh tubuh.  Perpustakaan sekolah dasar akan menjadi sumber informasi dan sumber ide yang merupakan dasar keberhasilan fungsional masa mendatang.
Sayangnya, masyarakat pelosok negeri kita belum menggangap perpustakaan sekolah dasar sebagai investasi masa depan. Fungsi perpustakaan sebagai wahana pendidikan, penelitian, pelestarian, dan rekreasi guna meningkatkan kecerdasan dan keberdayaan bangsa tidak mendarahdaging. Kita menganggap perpustakaan sekolah dasar sekedar pelengkap aturan atau sebatas penghambur uang. Akibatnya, perpustakaan  tersebut mati suri.
Mestinya, perpustakaan sekolah dasar mesti dirancang sebagai perantara antara ‘pemakai’ dengan sumber daya informasi yang tersedia secara potensial untuk memungkinkan pemakai menggunakan dan memperoleh  akses erhadap sumber informasi. Istilah ‘perantara’ di sini tidaklah berarti bahwa perpustakaan merupakan tembok yang membatasi antara pemakai dengan sumber informasi melainkan dalam arti perpustakaan menyediakan ‘prosed’ dan prosedur yang memungkinkan pemakai mengakses dan menggunakan informasi. Tanpa tersedianya proses dan prosedur yang digunakan perpustakaan maka pemakai akan sangat sulit atau malahan tidak mungkin mengakses dan menggunakan informasi.
Akhirnya, permasalahan saat ini memungkinkan dipecahkan jika potensi belajar diberikan ruang-ruang perpustakaan sekolah dasar ini. Tentu saja, perpustakaan yang dirancang dengan baik kepada murid dengan baik akan   memberikan hasil maksimal. Toshokan berhasil mencapai hasil maksimal karena kutu-kutu buku telah diciptakan sejak dini.

[3] Kepala Perpusptakaan Nasional RI. Lihat wwc. Kepala Perpustakaan Nasional RI :
Dady P Rachmananta
[6] Wongcelikblogblog(ARSUMBA): Membaca dan Berbagai Aspeknya.
Penulis: BAHARUDDIN ISKANDAR,S.Pd.
Perumnas Carawali Blok A 13 Kecamatan Paleteang, Kab. Pinrang Sulsel

Sumber: http://www.pemustaka.com/perancangan-mutu-layanan-perpustakaan-sekolah-dasar.html#ixzz1sCIOQ4RJ
Reaksi:

0 komentar:

Poskan Komentar